

Desa Cilumping, yang terletak di lereng pegunungan Kabupaten Cilacap, dikenal sebagai salah satu penghasil kopi unggulan di Jawa Tengah. Namun di balik harum biji kopi yang menjadi sumber penghidupan utama warga, tersimpan persoalan lingkungan yang kerap terabaikan, limbah kulit kopi yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 4 dari Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap menghadirkan sebuah inovasi bertajuk “Bakar Limbah Jadi Cuan”, yaitu program pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi briket bahan bakar alternatif. Proses pembuatan briket dilakukan melalui tahapan pengeringan, penggilingan, pencampuran dengan bahan perekat alami, dan pencetakan. Hasilnya adalah briket yang ekonomis, ramah lingkungan, dan memiliki nilai guna tinggi. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah, tetapi juga mengusung semangat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan.
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat, beberapa warga bahkan mulai tertarik untuk mempelajari teknik pembuatan briket secara mandiri. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, pemanfaatan kulit kopi juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular. Dengan adanya inovasi ini, Desa Cilumping tidak hanya dikenal sebagai penghasil kopi, tetapi juga sebagai pelopor pengolahan limbah kopi menjadi energi alternatif yang berkelanjutan. Tak hanya berhenti pada pelatihan teknis, KKN Kelompok 4 Universitas Nahdlatul Ulama AL Ghazali Ciacap (UNUGHA) juga memberikan pendampingan intensif kepada warga mengenai strategi pemasaran produk briket agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Para mahasiswa mengajarkan cara membuat identitas produk yang menarik, mulai dari pemberian nama merek, desain kemasan yang ramah lingkungan, hingga penulisan deskripsi produk yang informatif dan persuasif. Warga juga dibekali dengan pengetahuan dasar tentang pemasaran digital, seperti cara membuat akun toko daring di platform e-commerce, memanfaatkan media sosial untuk promosi, serta teknik fotografi produk menggunakan ponsel agar tampilan briket terlihat profesional dan menarik minat pembeli. Tak ketinggalan, KKN Kelompok 4 juga mengadakan simulasi penjualan dan diskusi kelompok mengenai strategi distribusi, segmentasi pasar, dan penentuan harga jual yang kompetitif. Melalui pendekatan ini, masyarakat Desa Cilumping tidak hanya mampu memproduksi briket secara mandiri, tetapi juga memiliki bekal untuk menjadikannya sebagai produk unggulan desa yang bernilai jual tinggi.
Harapannya, briket kulit kopi dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga sekaligus memperkuat citra desa sebagai komunitas yang inovatif, mandiri, dan peduli lingkungan. Dengan sinergi antara edukasi teknis dan strategi bisnis, program “Bakar Limbah Jadi Cuan” benar-benar menjadi gerakan nyata yang mengubah limbah menjadi peluang. Desa Cilumping kini tak hanya menghasilkan kopi, tetapi juga menciptakan solusi energi alternatif yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
| Luas Area | - m2 |
| Luas Bangunan | 215 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1970 |